Selain faktor suku bunga, Ibrahim juga menyoroti masih kuatnya permintaan emas dari bank sentral berbagai negara.

Hingga Mei 2026, bank sentral global tercatat telah membeli sekitar 41 ton emas batangan.

China menjadi pembeli terbesar dengan tambahan sekitar 10 ton sehingga total cadangannya mencapai 2.331 ton.

Sementara Uzbekistan menambah sekitar 9 ton menjadi 33 ton, Kazakhstan membeli 7 ton sehingga total kepemilikannya mencapai 361 ton, Singapura menambah 4 ton menjadi 197 ton, Cekoslovakia memiliki sekitar 22 ton, dan Yordania menambah sekitar 1 ton.

Menurut Ibrahim, aksi akumulasi tersebut menunjukkan bank-bank sentral memanfaatkan pelemahan harga emas sebagai momentum untuk meningkatkan cadangan logam mulia.

"Ini kesempatan bagi Bank Sentral Global untuk melakukan pembelian terhadap logam mulia karena mereka tahu bahwa ke depan Selat Hormus dibuka kembali, kemudian harga-harga minyak turun, kemudian Bank Sentral Global menurunkan suku bunga.

>>> Teknologi Pertanian Terintegrasi Dorong Swasembada Pangan

Ini akan membuat harga emas dunia terus mengalami lonjakan yang cukup signifikan," pungkasnya.