Pelatih AS Mauricio Pochettino mengutip kata-kata ikonik tentang momen besar yang lahir dari peluang besar.

Kini, kalimat itu tepat menggambarkan laga hidup mati melawan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Senin (30/6) waktu setempat.

>>> Lampu Rumah Taylor Swift di Rhode Island Menyala Saat Kembang Api Meriahkan 4 Juli

Dalam tiga Piala Dunia terakhir, AS selalu tersingkir di fase ini.

Namun, tim kali ini berbeda: mereka tengah berada di puncak momentum, berbicara terbuka tentang juara, dan bermain di kandang sendiri.

"Sebagai tim, kami ingin meninggalkan jejak dan warisan," kata gelandang veteran Tyler Adams. "Saya ingin lebih dari sekadar hype yang tercipta."

Hanya kemenangan yang bisa mewujudkannya.

AS telah memenangi pertandingan knockout Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002. Namun, generasi emas ini belum pernah meraih kemenangan "signature" melawan lawan elite sejati.

Di Qatar 2022, mereka kalah telak 3-1 dari Belanda.

Kemenangan 2-0 atas Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar pekan lalu menjadi awal yang baik. Kini, ujian sesungguhnya dimulai.

"Kamu harus merangkul momen ini," ujar Adams. "Senang bisa merasakan pertandingan dengan tekanan tinggi di laga sebelumnya.

Itu persiapan yang bagus."

Tantangan Berat Lawan Belgia

Mengalahkan Belgia bukan perkara mudah. Pada Maret lalu, Belgia mempermalukan AS 5-2 di Atlanta.

Adams absen karena cedera, begitu pula lima pemain lain yang menjadi starter lawan Bosnia.

"Itu tidak relevan," kata bek Tim Ream. "Pertandingan ini benar-benar berbeda."

Ia benar: ini adalah laga terbesar AS di Piala Dunia sejauh ini.

Belgia memang tim yang menua.

>>> Kylian Mbappe Bawa Prancis ke Perempat Final Piala Dunia 2026