Pemerintah Indonesia belum memberikan kepastian mengenai kebijakan insentif kendaraan listrik. Hingga saat ini, pembahasan masih berlangsung di Jakarta.

Ketidakjelasan ini mendorong Changan Indonesia untuk mengambil langkah strategis. Produsen asal China itu memilih menetapkan harga jual tanpa menyertakan subsidi pemerintah.

>>> GAIKINDO Desak Pemerintah Beri Stimulus Setara untuk Semua Investor Otomotif

Chief Executive Officer Changan Indonesia Setiawan Surya menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin bergantung pada kebijakan yang belum pasti.

Ia mengisyaratkan harapan insentif pada semester kedua tahun ini kemungkinan kecil terwujud.

"Nah ini kita sih berharap insentif ada.

Tapi kalau sudah baca dari pemberitaan-pemberitaan di media juga kan, kita juga jangan berharap di semester dua ya.

Ini juga dari berita yang saya peroleh," ungkap Setiawan di Jakarta.

Changan Indonesia mengambil langkah berani dengan tetap menggunakan skema harga normal untuk seluruh lini produk. Setiawan menjelaskan bahwa perhitungan harga saat ini belum menyertakan subsidi dari pemerintah.

"Jadi hitungan kita sementara (harga) kita hitung dengan kondisi saat ini dulu aja," lanjutnya.

Seluruh model yang dipasarkan Changan di Indonesia seperti Lumin, Deepal S07, hingga Deepal S05 yang baru dibuka masa pemesanannya masih menggunakan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPN sebesar 12 persen.

Setiawan menekankan bahwa sejak awal perusahaan memang tidak memasukkan variabel insentif dalam penentuan harga jual. "Kita menghitung enggak ada perhitungan (insentif).

>>> PIP Juli 2026: Cek Jadwal Pencairan, Cara Cek Status Penerima, dan Nominal Bantuan

Kita masih pakai PPN 12 persen sekarang. Dari awal juga yang S05, Lumin, and S07 juga kita enggak pakai perhitungan insentif.

Kita sudah pakai 12 persen sampai saat ini," tuturnya.