Krisis Biokultural Mengancam Indonesia: Bahasa dan Ritual Penjaga Alam Punah
Indonesia tengah menghadapi ancaman serius yang tersembunyi di balik krisis lingkungan, yaitu punahnya pengetahuan tradisional penjaga alam.
Fenomena ini dikenal sebagai krisis biokultural, di mana hilangnya bahasa lokal dan ritual adat ikut memusnahkan cara manusia merawat bumi.
>>> 5 HP Samsung 5G Termurah 2026 dengan Fitur Lengkap dan Performa Stabil
Working Group ICCAs Indonesia (WGII) mengingatkan bahwa krisis biokultural berisiko menghapus peradaban berharga milik Masyarakat Adat.
Jika relasi antara manusia, budaya, dan alam terputus, ekosistem fisik Indonesia yang kaya akan berada di ambang kehancuran.
Ancaman Lebih Besar dari Hilangnya Hutan
Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, menegaskan bahwa ancaman krisis biokultural jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya spesies fauna atau kawasan hutan.
"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas.
Yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," kata Cindy.
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki kekayaan alam fisik yang luar biasa, mulai dari savana, pesisir, hingga hutan belantara.
Namun, status Indonesia sebagai negara megabiokultural juga menunjukkan adanya hubungan mendalam yang tak kasat mata antara budaya manusia dan kelestarian alam.
>>> Palang Merah Singapura Manfaatkan AI untuk Mitigasi Bencana di Asia Tenggara
"Konsep megabiodiversitas umumnya mengacu pada sesuatu yang tangible, yang bisa dihitung secara fisik. Kenyataannya, aspek fisik tidak mungkin berdiri sendiri tanpa relasi," ujarnya.
"Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia.
Ketika bicara soal biokultural, berarti kita bicara tentang relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar," lanjutnya.
Bahaya Pandangan Materialistik Terhadap Alam
Ketika ikatan spiritual dan budaya dengan lingkungan mulai memudar, cara pandang manusia terhadap ekosistem di sekitarnya juga akan bergeser drastis.
Alam tidak lagi dihormati sebagai ruang hidup bersama, melainkan hanya dianggap sebagai komoditas komersial.
"Ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam hanya akan dipandang sebagai objek.
>>> WhatsApp Segera Luncurkan Fitur Username, Tak Perlu Lagi Bagikan Nomor Telepon
Ketika alam hanya dilihat sebagai supply untuk kebutuhan manusia, maka eksploitasi dan destruksi menjadi sesuatu yang dianggap wajar," katanya.
Update Terbaru
MA AS Tolak Perintah Trump Akhiri Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran
Rabu / 01-07-2026, 09:36 WIB
Manuel Neuer Pensiun dari Timnas Jerman Usai Tersingkir di Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
MK Tolak Gugatan Dharma Pongrekun soal KLB dan Wabah di UU Kesehatan
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Digitalisasi Desa Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Teknologi Buka Peluang Usaha
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Norwegia Kalahkan Pantai Gading 2-1, Haaland Jadi Kunci Kemenangan
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Celine Evangelista Ajari Putrinya Salat, Warganet Soroti Status Mualaf Sang Anak
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
4 Zodiak Paling Beruntung pada 1 Juli 2026, Hoki Menanti di Awal Bulan
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Perempuan Disabilitas Berdaya: Karya dari Daerah Tembus Panggung Jakarta
Rabu / 01-07-2026, 09:34 WIB
Aturan Minum Magnesium yang Benar agar Tak Mudah Stres dan Tidur Nyenyak di Usia 30-an
Rabu / 01-07-2026, 09:34 WIB
Psikolog Ungkap Alasan Remaja Sering Membantah, Bisa Jadi Tanda Positif
Rabu / 01-07-2026, 09:10 WIB
Arc Raiders Terapkan Denuvo Anti-Cheat untuk Semua Pemain, Embark Siapkan Pembaruan Lebih Besar
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Game Terakhir dari Art Director Half-Life 2 dan Dishonored Terungkap: Soulslike FPS Pertama di Dunia
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Trump Ungkap Pendapatan Kripto Lebih dari Rp15 Triliun
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Mike Tyson Rayakan Ultah ke-60 di Miami, Dunia Tinju Hormati Legenda
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB






