>>> Rockstar Ikut Sebut GTA 6 'Plays Best on PS5', Xbox Tak Disebut dalam Iklan

Risiko defisit dinilai membesar ketika harga minyak berada di bawah US$100 per barel.

Untuk menutup kebutuhan tersebut, INDEF GTI menilai tarif pungutan ekspor perlu mencapai sekitar 23,8% agar dana BPDP tidak defisit.

Angka itu hampir dua kali lipat dari tarif yang saat ini berada di kisaran 12,5%.

“Ironisnya, pada saat bersamaan, volume ekspor yang menjadi basis pungutan justru menyusut,” tulis INDEF GTI.

Jika dana BPDP tidak mencukupi, beban pembiayaan berisiko berpindah ke APBN.

Dalam kondisi itu, pemerintah akan menghadapi pilihan untuk menyuntikkan dana negara atau menaikkan tarif pungutan ekspor yang dapat membebani eksportir dan petani.

Tanpa antisipasi, pembayaran kepada produsen FAME juga berpotensi terlambat.

Selain fiskal, INDEF GTI juga menyoroti potensi tekanan terhadap harga minyak goreng.

Peningkatan kebutuhan CPO untuk biodiesel dinilai dapat mengurangi pasokan bahan baku yang sebelumnya bisa diarahkan untuk kebutuhan pangan.

>>> Bananya Rayakan 10 Tahun dengan Anime Baru Bananya At Home Party, Tayang 10 Juli

“Di luar persoalan fiskal, peningkatan dari B40 ke B50 berisiko menaikkan harga minyak goreng,” tulis INDEF GTI.