Tingginya serapan membuat Bulog perlu memperluas penyaluran beras, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga ke pasar ekspor.

>>> Maroko Bawa 19 Pemain Kelahiran Luar Negeri ke Piala Dunia 2026

Selain Singapura, Bulog juga tengah menjajaki peluang ekspor ke Malaysia yang disebut memiliki potensi permintaan hingga 500 ribu ton beras.

"Yang pertama adalah untuk program ke Malaysia yang 500 ribu ton. Mungkin dalam waktu dekat kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran," ujarnya.

Uni Emirat Arab (UEA) juga telah menyampaikan minat untuk mengimpor sekitar 50 ribu ton beras per bulan atau setara 600 ribu ton dalam setahun.

Selain itu, terdapat peluang ekspor ke Timor Leste dan Papua Nugini (PNG).

"Kemarin juga Uni Emirat Arab sempat meminta, kalau enggak salah per bulannya minta 50 ribu ton. Kalau setahun berarti sampai 600 ribu ton.

Ditambah lagi ke depan adanya potensi dari Singapura maupun negara-negara tetangga kita, Timor Leste maupun PNG," katanya.

Sebelumnya, Mentan Amran mengungkapkan pemerintah menawarkan ekspor sedikitnya 10 ribu ton beras ke Singapura dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu.

Menurut Amran, peluang ekspor tersebut didukung stok beras nasional yang telah mencapai sekitar 5,1 juta ton, sehingga Indonesia memiliki ruang untuk mulai memasok kebutuhan beras negara tetangga tersebut.

Amran menjelaskan pembahasan kerja sama akan dilanjutkan secara lebih rinci, termasuk untuk komoditas pangan lain yang dibutuhkan Singapura.

"Kami mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dari Indonesia ke Singapura.

Selain itu, kami juga ingin meningkatkan kerja sama untuk komoditas ayam, telur, minyak sawit, serta memperkuat pertukaran teknologi pertanian.

>>> Piala Dunia 2026: Jerman vs Paraguay Imbang, Laga Lanjut ke Extra Time

Ini menjadi langkah kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara," kata Amran dalam keterangan resmi, Senin (29/6).