Sejak peristiwa itu, kondisi mental dr. Icha disebut terus menurun. Fabianus Banase, paman sekaligus juru bicara keluarga, mengatakan korban mengalami ketakutan untuk kembali bertugas dan terus merasakan trauma.

Keluarga menyebut dr. Icha kemudian menjalani perawatan medis, termasuk pemeriksaan kesehatan jiwa. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang disampaikan keluarga, korban didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik.

Keluarga Menempuh Jalur Pengaduan

Sebelum korban meninggal dunia, keluarga telah menyampaikan laporan kepada Badan Kehormatan DPRD TTU pada Selasa (23/6/2026). Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pelanggaran etik oleh anggota dewan yang disebut berada di lokasi saat insiden di rumah sakit.

Keluarga berharap proses pemeriksaan berjalan objektif agar peristiwa serupa tidak kembali dialami tenaga kesehatan.

Anggota DPRD Membantah Dugaan Intimidasi

Therensius Lazakar membantah tudingan telah mengintimidasi dr. Icha. Menurutnya, kedatangannya bersama rekannya bertujuan memperoleh penjelasan mengenai kondisi pasien.

Ia mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi karena situasi yang dinilai mendesak, namun menegaskan tidak memiliki niat memberikan tekanan kepada tenaga kesehatan.

Kemenkes dan Kepolisian Lakukan Penelusuran

Kementerian Kesehatan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya dr. Icha serta memastikan dugaan intimidasi terhadap tenaga kesehatan akan ditelusuri bersama pihak terkait.

Sementara itu, kepolisian masih mengumpulkan keterangan dari para saksi untuk memastikan rangkaian peristiwa sebelum maupun sesudah insiden di RS Leona Kefamenanu. Hasil penyelidikan tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai seluruh fakta yang berkaitan dengan kasus ini.