FIFA menghadapi kritik tajam terkait sikap netralitas politiknya setelah menjadwalkan pertandingan Piala Dunia antara Mesir dan Iran di Seattle Stadium pada Jumat malam, bertepatan dengan perayaan Pride di kota tersebut.

Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 itu memicu demonstrasi besar di luar stadion. Aktivis, demonstran keagamaan, dan penggemar sepak bola terlibat dalam bentrokan terkait representasi dan hak asasi manusia.

in1

>>> Cara Mudah Pantau Pencairan Bansos Saat Status SIKS-NG Jadi SI di 10 Wilayah Tahun 2026

Menurut New York Times, Mesir dan Iran sama-sama menekan FIFA di belakang layar untuk menghapus merek Pride dari pertandingan tersebut.

FIFA menolak permintaan kedua negara dengan alasan yurisdiksi, bukan karena keyakinan, sehingga Seattle tetap menggunakan branding Pride Match.

Keputusan ini menyoroti inkonsistensi FIFA dalam menangani iklim politik lokal dibandingkan dengan penegakan ketat pembatasan budaya selama turnamen di Qatar tiga setengah tahun lalu.

Suara dari Dalam Komunitas

Bookda Gheisar, direktur senior kantor kesetaraan, keberagaman, dan inklusi Pelabuhan Seattle, mengungkapkan hubungan pribadinya dengan situasi ini sebagai seorang queer Iran-Amerika.

"Meskipun kontradiksi itu mungkin baru bagi banyak dari kita, tantangan kontradiksi itu telah menjadi perjuangan dalam kehidupan pribadi saya selama 40 tahun," ujar Gheisar.

>>> Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini 28 Juni 2026, Cek Jam Keberangkatannya!

Ia menambahkan bahwa identitasnya juga dimiliki oleh banyak orang lain yang menghadapi perjuangan serupa dengan definisi institusional. "Saya yakin tidak sendirian dalam hal ini.

Saya bukan satu-satunya orang Iran-Amerika yang mengidentifikasi sebagai queer," katanya.

Di luar stadion, Sam, seorang gay Iran berusia 23 tahun yang tinggal di San Francisco, ikut serta dalam acara tersebut dengan menyembunyikan nama belakangnya untuk melindungi keluarganya yang masih di Iran.

"Saya harus menjadi bagian dari sejarah," kata Sam sambil menyesuaikan wig pelangi. "Ini istimewa, bisa berkumpul untuk ini dan menjadi diri saya sendiri tanpa rasa takut."

>>> Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Selat Sunda, Indonesia

Demonstrasi ini terjadi di tengah perselisihan budaya olahraga yang lebih luas, termasuk protes baru-baru ini oleh pemain bisbol di San Francisco terhadap penggunaan perlengkapan bertema Pride.