"Saat itu Glodok dekat dengan jalur air yang memudahkan masyarakat Tionghoa untuk melakukan aktivitas bongkar muat barang," paparnya.

Saat terjadi isolasi, komunitas tersebut membangun ekosistem perdagangan mandiri yang kuat, mulai dari pasar tradisional, toko obat herbal, hingga kuliner.

in1

Abimantra menyebut kawasan Glodok adalah laboratorium visual yang hidup.

Arsitektur hibrida yang memadukan gaya Tionghoa Selatan dan kolonial masih bisa dijumpai di gang-gang sempitnya, seperti di kawasan Petak Sembilan dan Gang Gloria.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya melihat Glodok sebagai pusat belanja elektronik atau destinasi kuliner semata.

Kawasan ini merupakan bagian penting dari mosaik identitas Jakarta.

Ia menilai bahwa kawasan ini adalah warisan hidup yang masih menjalankan fungsi sosial, budaya, dan ekonomi hingga sekarang.

>>> Gelombang Panas Spanyol Tewaskan 212 Orang, Suhu Capai 43,7 Derajat

"Glodok mengajarkan bahwa Jakarta dibangun oleh banyak kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda. Sejarah kawasan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah bagian penting dari identitas kota," katanya.