Timnas Turki harus mengubur mimpi untuk berbicara banyak di Piala Dunia 2026 setelah menelan dua kekalahan beruntun pada pertandingan Grup D.

Setelah melalui fase panjang pada babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Turki hanya menjadi penggembira, bukan pesaing serius seperti yang diharapkan banyak pihak.

in1

>>> OJK Jambi Bekali Perempuan dengan Edukasi Literasi Keuangan

Perjalanan Turki menuju putaran final tidak mudah.

Mereka lolos setelah finis sebagai peringkat kedua Grup E Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa dengan 13 poin dari enam pertandingan, di bawah Spanyol yang melaju otomatis sebagai juara grup.

Turki kemudian menjalani dua laga play-off sebelum memastikan tiket ke putaran final dengan menyingkirkan Rumania dan Kosovo.

Namun, perjuangan panjang tersebut tidak berlanjut manis di putaran final.

Pada laga pertama Grup D, Turki kalah 0-2 dari Australia, sebelum kembali tumbang 0-1 dari Paraguay pada pertandingan kedua.

>>> PLN Pulihkan Pasokan Batu Bara PLTU Pulau Jawa

Dua kekalahan beruntun itu membuat Turki menjadi tim kedua yang dipastikan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026 setelah Haiti di Grup C.

Meski masih menyisakan satu pertandingan melawan tuan rumah Amerika Serikat, kemenangan tidak akan mengubah nasib mereka.

Turki tetap akan finis di posisi juru kunci karena kalah head-to-head dari Australia maupun Paraguay jika nantinya memiliki jumlah poin yang sama.

Pola Antiklimaks yang Berulang

Kegagalan Turki untuk sekadar lolos dari fase grup saat datang dengan status unggulan ternyata bukan hal baru.

Seolah-olah, Turki memiliki kebiasaan mengalami antiklimaks ketika datang sebagai salah satu kuda hitam atau bahkan kandidat kuat dalam sebuah turnamen besar.

>>> Ekonom: Penilaian MSCI Jadi Masukan untuk Percepat Reformasi Pasar Modal

Tantangan terbesar mereka adalah membuktikan mampu bersaing di level tertinggi serta menghindari antiklimaks yang berulang kali terjadi pada turnamen-turnamen sebelumnya.