PLTU Paiton dan Indramayu Disebut Kritis, Isu Stok Batu Bara PLN Jadi Sorotan

Perbincangan mengenai penyebab pemadaman listrik yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa kembali mengemuka. Di media sosial, muncul dugaan bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan menurunnya persediaan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN.

Isu itu ramai setelah sebuah utas di Threads yang diunggah pada 11 Juni 2026 menyebut stok batu bara pada sejumlah pembangkit berada di bawah batas aman. Unggahan tersebut kemudian menyebar luas dan mendapat ribuan respons dari pengguna media sosial.

Dalam utas tersebut disebutkan bahwa cadangan batu bara yang tersedia hanya mampu menopang operasi pembangkit selama sekitar 11 hingga 12 hari. Angka itu disebut jauh di bawah ketentuan internal yang mensyaratkan ketersediaan stok untuk sedikitnya 26 hari operasi.

Akun yang mengunggah informasi itu menuliskan bahwa berdasarkan pemantauan lapangan dan informasi dari pelaku industri per Juni 2026, Hari Operasi Pembangkit (HOP) di lingkungan PLN Group berada di kisaran 12 hari. Sementara itu, pembangkit yang dikelola produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) disebut memiliki rata-rata HOP sekitar 11 hari.

Unggahan tersebut juga menyebut sejumlah PLTU berkapasitas besar di Jawa, termasuk Paiton dan Indramayu, telah masuk kategori kritis akibat rendahnya persediaan batu bara.

>>> Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Antara Pilihan Sadar dan Tekanan Ekonomi

Hingga pertengahan Juni 2026, utas tersebut telah memperoleh lebih dari 1.900 tanda suka dan dibagikan lebih dari seribu kali oleh pengguna Threads.

Di tengah ramainya spekulasi yang berkembang, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan energi primer untuk pembangkit PLN masih tersedia dan dalam kondisi aman.

Menurut Bahlil, persoalan kelangkaan batu bara yang dikaitkan dengan pemadaman listrik tidak sesuai dengan kondisi yang ada. Ia menyebut pemerintah telah menjalankan penugasan pasokan batu bara hingga mencapai 170 juta ton.

"Saya sampai dengan hari ini, malam ini juga masih ada rapat dengan PLN di kantor untuk membahas masalah ini (pemadaman listrik). Kalau dikatakan bahwa masalah batu bara langka itu enggak benar, karena penugasan kita sudah mencapai 170 juta ton," kata Bahlil.

Ia menambahkan, gangguan yang terjadi lebih banyak berkaitan dengan masalah teknis pada sejumlah mesin pembangkit yang telah dilaporkan oleh PLN.