Memasuki awal tahun 1448 Hijriah, umat Islam kembali berada di bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa. Selain menjadi salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT, Muharram juga menjadi momentum untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Dalam naskah khutbah Jumat yang disampaikan untuk menyambut Muharram, jamaah diajak menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai kesempatan melakukan evaluasi dan pembaruan niat dalam kehidupan sehari-hari.

>>> Luca Zidane Debut di Piala Dunia 2026 Bersama Aljazair

Muharram Termasuk Bulan yang Dimuliakan

Muharram masuk dalam kelompok empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan dan kezaliman.

Keistimewaan Muharram juga ditegaskan dalam sejumlah riwayat. Rasulullah SAW menyebut bulan ini sebagai Syahrullah Al-Muharram atau Bulan Allah Muharram.

Karena itu, datangnya Muharram tidak cukup dimaknai dengan pergantian angka tahun semata. Bulan ini menjadi pengingat agar setiap Muslim memperbarui komitmen dalam menjalankan perintah agama dan memperbaiki kualitas ibadah.

Hijrah Menjadi Pelajaran Utama

Muharram identik dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Perjalanan tersebut bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perubahan besar yang mengantarkan umat Islam menuju kehidupan yang lebih baik.

Nilai hijrah yang terkandung di dalamnya relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masa kini. Umat Islam diajak meninggalkan kebiasaan buruk menuju ketaatan, mengurangi kelalaian, serta meningkatkan kesadaran dalam beribadah dan bermuamalah.

Semangat hijrah juga dapat diwujudkan melalui perubahan sikap, mulai dari memperbaiki hubungan dengan Allah SWT hingga memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

Puasa Muharram dan Hari Asyura