Pelaksanaan program tahun ini diawali melalui kegiatan INFINITY yang digelar di SLBN 02 Jakarta.

Program tersebut dirancang khusus untuk membantu siswa penyandang disabilitas pendengaran memahami konsep dasar pengelolaan keuangan melalui metode pembelajaran yang lebih adaptif, seperti pendekatan visual, aktivitas kinestetik, dan simulasi pengalaman langsung.

Dalam kegiatan bertajuk Money Adventures, para peserta diajak mengenal empat konsep utama dalam pengelolaan keuangan, yakni memperoleh pendapatan, menabung, berbelanja, dan berbagi.

Mereka belajar melalui simulasi berbagai profesi, menyusun target tabungan, menentukan prioritas pengeluaran, hingga memahami pentingnya berbagi kepada sesama.

Komitmen OJK dan Dukungan Industri

Asisten Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Chandra Shadiq Faritzi, menegaskan peningkatan akses keuangan harus dibarengi dengan upaya memperluas literasi keuangan yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Menurutnya, OJK telah memperkuat komitmen tersebut melalui peluncuran Pedoman Akses Pelayanan Keuangan untuk Disabilitas Berdaya (SETARA) pada awal 2025, serta Buku Pedoman Literasi Keuangan bagi Penyandang Disabilitas pada akhir tahun yang sama.

>>> Pratama Arhan dan Inka Andestha Hadiri Resepsi Jennifer Coppen di Bali

Ia menilai pendidikan keuangan yang disampaikan melalui pendekatan inklusif dan sesuai kebutuhan peserta dapat membantu generasi muda memahami risiko finansial, mengelola pengeluaran dengan lebih bijak, serta membangun kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini.

Sementara itu, Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengatakan generasi muda saat ini hidup di tengah kemudahan akses keuangan, namun juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mengambil keputusan finansial.

Mulai dari budaya konsumsi digital hingga hadirnya berbagai layanan keuangan instan, menurutnya, membuat generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar teori mengenai pengelolaan uang.