Ia mengaku tetap bertahan bersama Nusron Wahid karena menilai dialog merupakan cara terbaik untuk membahas perbedaan pandangan. Akan tetapi, kondisi di lokasi disebut memburuk setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.

Bantah Tinggalkan Lokasi karena Menghindari Dialog

Sudaryono membantah tudingan yang menyebut dirinya dan rombongan kabur dari lokasi. Ia menegaskan keputusan meninggalkan area forum dilakukan atas pertimbangan keamanan setelah situasi tidak lagi memungkinkan untuk melanjutkan diskusi.

"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.

Dalam dialog lanjutan yang berlangsung secara spontan di luar lokasi acara, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik mengenai persoalan pertanahan dan dugaan penggusuran.

Menanggapi hal itu, Sudaryono menyatakan kesiapannya memeriksa langsung setiap laporan yang disampaikan mahasiswa.

"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," katanya.

Siap Kembali Berdiskusi dengan Mahasiswa

Sudaryono menilai kritik merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati. Ia juga menegaskan pemerintah membuka ruang dialog bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan maupun masukan.

"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.

Ia turut menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang datang dengan tujuan berdiskusi tetapi tidak dapat mengikuti forum hingga selesai akibat kericuhan yang terjadi.

"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," kata Sudaryono.

Menutup keterangannya, ia menegaskan pemerintah akan terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat sebagai bagian dari upaya menyerap aspirasi publik.

"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.