Laporan Asia Care Survey 2025 yang dirilis Manulife menunjukkan banyak masyarakat Indonesia dari berbagai kelompok usia terjebak dalam pola pikir keliru saat menyiapkan dana pensiun.

Akibatnya, hasil investasi mereka menjadi tidak optimal.

>>> Kurs Rupiah Menguat ke Rp 17.709 per Dollar AS, Dipicu Sentimen Global dan BI Rate

Kekeliruan tersebut terjadi karena banyak pekerja mengabaikan strategi tiga babak investasi, yakni akumulasi, preservasi, dan realisasi.

Mereka cenderung menempatkan lebih dari 50 persen aset produktif dalam bentuk tunai atau rekening tabungan yang berimbal hasil sangat rendah.

Pola investasi defensif pada usia produktif ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan aset secara signifikan. Hal itu berpotensi menurunkan kesejahteraan hidup ketika memasuki masa purna bakti.

"Sehingga bekal pensiun mereka jauh dari optimal," kata Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Strategi Tiga Babak Investasi

Eveline menjelaskan bahwa pada babak akumulasi, investor muda seharusnya memilih instrumen investasi agresif yang berkarakter high risk, high return.

>>> PLN Rilis Tarif Listrik per kWh Periode 16-21 Juni 2026, Tidak Ada Perubahan

Tujuannya untuk menumbuhkan modal secara maksimal.

"Saham atau reksadana saham, emas, bahkan properti bisa jadi pilihan, asal dipahami benar risikonya," tutur Eveline.

Menurut laporan tersebut, kesalahan lain juga terdeteksi pada kelompok usia di atas 55 tahun.

Sebanyak 38 persen responden justru memprioritaskan aset properti yang tidak likuid, padahal mereka membutuhkan instrumen yang mudah dicairkan seperti deposito atau reksadana pasar uang.

>>> Adidas Indonesia Diskon Sepatu Samba 50 Persen, Harga Turun Jadi Rp1 Juta

Selain ketidaktepatan instrumen investasi, masyarakat juga dinilai abai terhadap proteksi tambahan. Asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan dana darurat penting untuk mengantisipasi kejadian tidak terduga saat masa pensiun.