Pertama, kenali situasi pemicu.

Tekanan kerja biasanya dipicu oleh kondisi spesifik seperti tenggat waktu ketat, konflik internal, ketidakpastian, atau tugas dengan eksposur tinggi.

>>> Penjualan Mobil PHEV Mei 2026 Turun 10 Persen, Tapi Melonjak 416% Secara Tahunan

Kedua, perhatikan respons otomatis.

Setiap individu memiliki kecenderungan bersikap kontras saat stres, mulai dari menjadi dominan mengontrol, menarik diri, bertindak tergesa-gesa, hingga berusaha menyenangkan semua pihak.

"Kebanyakan pemimpin memiliki satu pola utama dan satu pola cadangan," ujar Lea.

Ketiga, pahami konsekuensinya. Setiap model respons otomatis memberikan solusi instan jangka pendek, tetapi berisiko memicu kerugian jangka panjang bagi organisasi.

Sikap terlalu mendominasi bisa menciptakan kejelasan target namun mereduksi rasa kepemilikan tim. Keputusan yang terlalu cepat berpotensi mengejar tenggat tetapi mengorbankan keselarasan kerja tim.

Keempat, bangun pilihan respons yang lebih luas. Langkah ini bukan untuk mengeliminasi pola lama, melainkan memperkaya opsi tindakan dalam menghadapi dinamika masalah.

"Jika pola default kita adalah mempercepat, berlatihlah untuk berhenti sejenak sehingga kita dapat merespons dengan niat, bukan bereaksi karena kebiasaan," kata Lea.

Mengasah Kepekaan Sinyal Tubuh

Metode paling mendasar untuk menyusun respons baru adalah meningkatkan kepekaan terhadap kondisi fisik.

Tekanan emosional sering bermanifestasi melalui reaksi tubuh seperti napas memendek, ketegangan bahu, hingga rahang mengatup rapat.

Atasan disarankan menjeda aktivitas selama lima sampai 10 detik sebelum menghadapi momen krusial untuk mengidentifikasi bagian tubuh yang menegang.

"Rasakan tubuh kita, perhatikan bagian mana yang tegang, dan sebutkan itu. Tiga puluh detik adalah perbedaan antara bereaksi dan memilih," ujarnya.

Pengenalan sinyal fisik secara dini memberi kesempatan pikiran mengendalikan respons otomatis sebelum mengambil alih tindakan.

>>> 8 Manfaat Mengejutkan Minum Air Lemon Menurut Ahli Gizi

Kompetensi inilah yang membedakan pemimpin yang sekadar bertahan dengan yang mampu memimpin secara efektif.