Ia melanjutkan bahwa acara ini bertujuan untuk menghormati warisan budaya, menghubungkan generasi, mendukung bisnis lokal, dan menunjukkan kekuatan komunitas kepada dunia.

"They’re going to leave it all on the field at Boston Stadium this evening," ujar Marie St. Fleur, mantan perwakilan wilayah negara bagian.

>>> Inter Milan Incar Mastantuono dan Camavinga Usai Marotta Temui Perez

Setelah memberikan sambutan, St. Fleur mengajak para pendukung dari kedua negara untuk mengibarkan bendera masing-masing dan merayakan kebudayaan lewat musik serta tarian Kompa dan lagu hits Skotlandia.

"The menu is not as extensive as it is in the UK," kata Dazz Bartley, seorang suporter Skotlandia saat beristirahat di gerai Dunkin'.

Bartley bersama temannya, Camy McPhee, memilih tempat tersebut karena harga makanan dan minuman di area lain dinilai terlalu tinggi setelah mereka membayar 45 dolar AS untuk tiga minuman dan satu soda.

"We’re going to be on the news!"

kata Kayla Saint-Cyr, Keilanj Saint-Cyr, dan Ava Paul secara serempak saat menari membawa kipas bergambar bendera Haiti di Boston Fan Fest.

Anak-anak asal Boston tersebut menikmati atmosfer Piala Dunia di lokasi nonton bareng gratis tanpa harus melakukan perjalanan langsung menuju stadion di Foxborough.

"I hope that all of the teams win and get a trophy and a medal," kata Kayla Saint-Cyr saat ditanya mengenai harapannya dalam turnamen ini.

Kepadatan suporter juga terjadi di The Dubliner Irish bar, pusat kota Boston, tempat berkumpulnya pendukung Brasil dan Skotlandia yang menonton siaran pertandingan lain secara bersamaan.

"Brazil is nervous," kata Hugo Santos, seorang warga asal Rio de Janeiro yang bertemu dengan sesama warga Brasil bernama Luis Martins di bar tersebut.

>>> Timnas Jerman Targetkan Kemenangan Besar Atas Curacao di Piala Dunia 2026

Santos menambahkan bahwa lambang negara Brasil terasa berat bagi tim, sementara Martins memprediksi negaranya akan memenangkan pertandingan melawan Maroko dengan skor akhir 3-1.