Pemilih Swiss Gelar Referendum Pembatasan Populasi 10 Juta Jiwa
Para pemilih di Swiss melaksanakan pemungutan suara dalam sebuah referendum pada Minggu (14/6) untuk menentukan usulan pembatasan populasi negara tersebut maksimal 10 juta jiwa.
Langkah ini diajukan oleh Partai Rakyat Swiss (SVP) yang berhaluan sayap kanan, dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap tekanan layanan publik, harga perumahan, dan biaya hidup.
>>> Dean Huijsen Berlatih di Bali Usai Dicoret dari Skuad Spanyol
Apabila usulan ini disetujui, pembatasan populasi tersebut berpotensi mengancam hubungan bilateral serta perjanjian pergerakan bebas tenaga kerja antara Swiss dengan Uni Eropa (UE) yang selama ini menjadi pemasok utama pekerja di sana.
Kekhawatiran Meluas ke Berbagai Kalangan
Seorang pakar migrasi di lembaga pemikir Avenir Suisse, Patrick Leisibach, menilai bahwa kekhawatiran terkait kepadatan penduduk kini telah meluas hingga ke kelompok politik sayap kiri karena kapasitas infrastruktur publik yang mulai terbatas.
"Ada pandangan anti-imigrasi tradisional di kalangan sayap kanan, tetapi saat ini bahkan banyak kalangan sayap kiri yang merasakan tekanan tersebut," katanya.
Helen Gulea, penjahit berusia 58 tahun asal Kenya yang bekerja paruh waktu di sebuah kios di Zurich, mengatakan, "Jika jumlah penduduk melebihi 10 juta, situasinya akan menjadi ketat dan imigrasi harus dibatasi."
Di sisi lain, pemerintah dan parlemen Swiss telah mendesak masyarakat untuk menolak inisiatif tersebut karena dinilai tidak tepat bagi perekonomian Swiss yang berorientasi ekspor, terlebih setelah adanya kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat.
>>> 5 Resep Hidangan Tradisional untuk Menyambut Tahun Baru Islam
Namun, anggota parlemen dari partai SVP, Thomas Matter, tetap berpendapat bahwa tingginya tingkat imigrasi secara keseluruhan tidak berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan di Swiss.
Beberapa tokoh internal partai pengusung sendiri menyatakan bahwa usulan ini bukan bertujuan untuk sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Uni Eropa, melainkan sebagai bentuk peringatan bagi pemerintah.
"Saya tidak ingin kebebasan bergerak berakhir," kata Heinz Taennler, politisi SVP sekaligus direktur keuangan wilayah Zug.
Ia menambahkan bahwa pengetatan kontrol tetap harus dilakukan oleh pemerintah Swiss meskipun kuota migrasi penduduk masih tersedia.
>>> Skotlandia Hadapi Haiti di Laga Perdana Grup C Piala Dunia 2026
"Satu juta orang lagi masih bisa berimigrasi ke Swiss, tetapi pemerintah perlu mengambil tindakan," kata Heinz Taennler.
Update Terbaru
New York Knicks Siap Kunci Gelar Juara NBA 2026 di San Antonio
Minggu / 14-06-2026, 08:32 WIB
Steve Clarke Pastikan Scott McTominay Tampil Lawan Haiti di Piala Dunia 2026
Minggu / 14-06-2026, 08:32 WIB
Hasil Akhir Brasil Vs Maroko di Piala Dunia 2026: Imbang 1-1
Minggu / 14-06-2026, 08:32 WIB
Scott McTominay Pulih dan Siap Bela Skotlandia Lawan Haiti di Piala Dunia 2026
Minggu / 14-06-2026, 08:32 WIB
Vinicius Junior Selamatkan Brasil dari Kekalahan Lawan Maroko
Minggu / 14-06-2026, 08:32 WIB
Lionel Scaloni Panggil Marcos Senesi ke Skuad Piala Dunia 2026
Minggu / 14-06-2026, 08:28 WIB
Imigrasi Denpasar Deportasi Enam WNA karena Overstay dan Buat Onar
Minggu / 14-06-2026, 08:28 WIB
Knicks Unggul 3-1 atas Spurs, Satu Kemenangan Lagi Menuju Gelar
Minggu / 14-06-2026, 08:27 WIB
Mustapha Ghorbal Pimpin Laga Piala Dunia 2026 Skotlandia vs Haiti
Minggu / 14-06-2026, 08:24 WIB
Alex Pereira Incar Gelar Juara Dunia Kelas Berat UFC Freedom 250
Minggu / 14-06-2026, 08:24 WIB
Brasil Imbangi Maroko 1-1 di Piala Dunia, Luiz Henrique Bicara soal Tekanan
Minggu / 14-06-2026, 08:23 WIB
Konstruksi Tol Ciawi-Sukabumi Seksi 3 Segmen Cibadak Terus Dikebut
Minggu / 14-06-2026, 08:22 WIB
Mustapha Ghorbal Pimpin Laga Skotlandia vs Haiti di Piala Dunia 2026
Minggu / 14-06-2026, 08:21 WIB
Daftar Kode Redeem FF 15 Mei 2026 Terbaru dan Cara Klaimnya
Minggu / 14-06-2026, 08:20 WIB






