Kebimbangan Pengguna BBM Meningkat usai Harga Pertamax Naik

Keputusan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax memunculkan dilema baru bagi sebagian pengguna kendaraan. Di tengah tekanan biaya hidup, banyak masyarakat mulai menghitung ulang pengeluaran transportasi dan mempertimbangkan apakah tetap menggunakan Pertamax atau beralih ke Pertalite yang harganya masih bertahan di Rp10.000 per liter.

Percakapan mengenai pilihan bahan bakar itu ramai bermunculan di media sosial. Sejumlah pengguna mengaku mulai mempertimbangkan faktor ekonomi dibandingkan preferensi penggunaan BBM dengan nilai oktan lebih tinggi.

Salah satu pengguna media sosial X bahkan menyebut kondisi keuangan saat ini membuatnya lebih memilih menghemat pengeluaran harian daripada mempertahankan penggunaan bahan bakar yang lebih mahal.

"Teori sayang kendaraan cuma berlaku kalau isi dompet lagi sehat walafiat. In this economy, mending mesin yang ngelitik dikit-dikit menahan beban, daripada dompet yang langsung kritis masuk ICU," tulis akun @edittweet.

Pendapat serupa datang dari pengguna lain yang sebelumnya tetap bertahan menggunakan Pertamax. Ia mengaku pengisian Rp50.000 kini hanya cukup untuk dua kali perjalanan pulang-pergi, sementara sebelumnya nominal Rp45.000 masih mampu menopang tiga kali perjalanan dengan rute yang sama.

Kondisi tersebut membuatnya mulai memikirkan opsi berpindah ke Pertalite pada pengisian berikutnya.

"Sepertinya selanjutnya mau minta maaf sama kendaraan karena bakal beralih ke Pertalite. Namun kalau SPBU swasta ada isinya tentu akan masih jadi pilihan pertama ku," tulis akun @pt96frd.

>>> Samsung Galaxy A17 4G atau Infinix Note Edge 5G? Sesuaikan dengan Kebutuhan Pengguna

Ada yang Tetap Bertahan Menggunakan Pertamax

Di sisi lain, tidak semua pengguna berniat mengganti jenis bahan bakar. Maheswara, seorang pekerja di Jakarta, mengaku tetap memilih Pertamax karena spesifikasi mesin kendaraannya dirancang menggunakan BBM dengan RON 92.