Selain itu, biaya transportasi hariannya juga masih ditopang oleh tunjangan dari perusahaan tempatnya bekerja.

Menurut perhitungannya, pengeluaran BBM bulanan yang sebelumnya berada di kisaran Rp280.000 hingga Rp300.000 berpotensi naik menjadi lebih dari Rp400.000 setelah penyesuaian harga terbaru.

"Kalau saya sendiri sebulan [biaya BBM-nya] Rp280.000 sampai Rp300.000. Kayanya [setelah kenaikan Pertamax] sekarang bisa Rp400.000 lebih. Asumsinya saya butuh maksimal 7 liter per minggu," ujar Maheswara.

Pemerintah Antisipasi Perpindahan Konsumen

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kenaikan harga Pertamax hingga 32 persen menjadi Rp16.250 per liter berpotensi mendorong perpindahan konsumsi ke Pertalite yang masih mendapat subsidi.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah pengawasan agar distribusi BBM subsidi tetap tepat sasaran.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan bahwa mekanisme pembelian BBM subsidi saat ini sudah terhubung dengan sistem MyPertamina yang menggunakan QR Code sebagai alat verifikasi.

Menurutnya, pengawasan juga akan diperkuat untuk menekan penyalahgunaan BBM subsidi oleh pihak yang tidak berhak.

"Antisipasi, mitigasi pasti dilakukan. Misalnya, saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya," kata Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026).

Ia menambahkan pemerintah bersama Pertamina dan instansi terkait terus diminta meningkatkan pengawasan di lapangan guna memastikan penyaluran BBM subsidi berjalan sesuai ketentuan.