Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong transformasi industri digital sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi pelaku usaha.

VP & Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan, menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi membangun situs digital, melainkan menjaga kepercayaan pengguna di tengah meningkatnya ancaman siber berbasis AI.

>>> 5 Detail Gaya Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner

Menurutnya, teknologi AI telah menurunkan hambatan teknis dalam pengembangan website.

Namun, teknologi yang sama juga dimanfaatkan untuk serangan siber seperti phishing otomatis dan eksploitasi celah keamanan yang kompleks.

"Tantangan terbesar para web developer saat ini bukan lagi soal tools atau tampilan. Yang paling sulit adalah membangun kepercayaan.

Ada tiga hal yang harus dijaga yakni kecepatan, keamanan, dan kepercayaan," ujar Indra dalam Indonesia Website Awards (IWA) 2026, Jumat (12/6/2026).

Ia menambahkan, kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data, audit keamanan berkelanjutan, dan pengalaman pengguna yang baik menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan digital.

Perubahan Standar Pengelolaan Website

Perubahan lanskap digital mendorong perubahan standar pengelolaan website.

Selain desain dan performa, pelaku industri kini mulai memperhatikan kemampuan website membangun otoritas digital dan visibilitas di mesin pencarian berbasis AI generatif atau Generative Engine Optimization (GEO).

Founder & Co-CEO Avonetiq Alexandro Wibowo mengatakan perkembangan AI membuat hampir semua orang dapat membangun website dengan lebih mudah.

>>> MIND ID Pamerkan Inovasi Pengelolaan Limbah di Invirotech 2026

Namun, faktor pembeda kini terletak pada tingkat akuntabilitas dan kredibilitas yang mampu dibangun.

"Website harus merepresentasikan brand secara utuh, mulai dari performa, desain, keamanan hingga bagaimana website tersebut dipandang oleh AI.

Akuntabilitas akan melahirkan otoritas, dan otoritas akan membangun kepercayaan," ujarnya.