Bank Nasional Georgia (NBG) mengumumkan pembelian emas fisik senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,79 triliun.

Langkah ini diambil untuk mendiversifikasi cadangan resmi dari pengaruh geopolitik dan inflasi.

>>> Fulham Dekati Alvaro Arbeloa untuk Gantikan Marco Silva

Pembelian tersebut merupakan yang pertama sejak Maret dan April 2024. Saat itu, Georgia membeli 4,7 ton dan 2,5 ton emas berdasarkan data World Gold Council.

Setelah akuisisi ini, pangsa emas moneter dalam cadangan internasional NBG mencapai 15,5%.

Total cadangan internasional mencapai rekor tertinggi US$ 7,0 miliar, setara 114,8% dari metrik ARA IMF.

Alasan Strategis di Balik Akuisisi

NBG menyatakan keputusan ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan cadangan jangka panjang. Bank sentral memproyeksikan permintaan sektor resmi akan terus menopang pasar logam mulia.

>>> FIFA Terapkan Regulasi Baru untuk Percepat Tempo Piala Dunia 2026

Menurut NBG, permintaan bank sentral memiliki sensitivitas harga yang rendah. Hal ini mendukung stabilitas harga dasar emas di tengah ketidakpastian global.

Konflik di Ukraina, ketegangan Timur Tengah, gesekan dagang AS-Tiongkok, dan konflik AS-Iran pada Februari 2026 memperkuat premi risiko struktural.

Emas dinilai semakin berharga sebagai aset safe-haven.

Aksi beli institusional ini dilaporkan Kitco News menjadi faktor krusial yang menjaga stabilitas nilai dasar emas di pasar global.

>>> Introspeksi Diri Menjelang Tahun Baru Hijriah

Hal ini terjadi saat harga emas menghadapi tekanan koreksi.