Infinix, merek di bawah Transsion Group, kini mengubah strategi dengan merangsek ke segmen smartphone premium.

Langkah ini diambil di tengah keterbatasan memori industri, penurunan daya beli, dan pelemahan rupiah.

>>> Xiaomi Siapkan Mix Fold 5 dengan Chip Khusus Xring O3 dan Kamera 200MP

Perubahan fokus ini dilakukan secara aktif sejak beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Infinix dikenal sebagai pemain di segmen mid to low end.

Strategi baru ini langsung menantang raksasa industri seperti Apple dan Samsung. Infinix menawarkan perangkat keras kelas unggulan dengan harga kompetitif untuk merebut pasar menengah hingga atas.

Langkah tersebut tercermin jelas melalui peluncuran Infinix Note 60 Ultra. Perangkat ini membawa kaca belakang melengkung dan layar AMOLED dengan refresh rate 144Hz.

Sektor kamera dibekali resolusi hingga 200MP berbasis kecerdasan buatan (AI) serta stabilisasi cahaya rendah.

Fitur pengisian daya ultra cepat hingga 120W menjadi pembeda utama dari kecepatan standar Apple dan Samsung.

Ponsel seharga sekitar US$600 ini didukung oleh prosesor MediaTek Dimensity premium. Infinix juga mengintegrasikan fitur konektivitas satelit dua arah dan sinyal super AI.

Empat Faktor Pendorong Perubahan Strategi

Terdapat empat faktor utama yang mendasari perubahan strategi Infinix.

Pertama, Infinix ingin mengatasi batasan sebagai merek ponsel murah demi mempertahankan konsumen setia yang mulai membutuhkan estetika dan dukungan perangkat lunak lebih baik.

Kedua, jajaran perangkat ultra-premium seperti Infinix NOTE 60 Ultra dimanfaatkan untuk memamerkan inovasi teknologi hasil riset dan pengembangan (R&D) perusahaan.

Ketiga, peningkatan prestise merek dilakukan lewat jalur desain dengan menggandeng desainer otomotif mewah, Pininfarina.

>>> Lenovo Rilis ThinkTab X11 dengan Baterai yang Bisa Dilepas Tanpa Obeng