Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya penelitian lanjutan terkait ketidakpastian sumber gempa di Pulau Jawa.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi penilaian risiko bencana di wilayah tersebut.

>>> EA Sports Bagikan Kode Redeem FC Mobile Juni 2026, Klaim 2.000 Gems Gratis

Pernyataan tersebut disampaikan dalam lokakarya geosains di Jakarta pada Senin (8/6).

Sistem sumber gempa di Pulau Jawa dinilai sangat kompleks karena memiliki zona subduksi di bagian selatan dan berbagai sesar aktif di daratan.

Salah satu struktur yang diwaspadai adalah Java Back-Arc Thrust yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya. Peta bahaya gempa saat ini terus diperbarui secara dinamis mengikuti temuan geologi terbaru.

Pengetahuan Sesar Aktif Masih Terbatas

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Danny Hilman Natawidjaja, mengungkapkan bahwa pengetahuan mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian.

Beberapa sesar sudah diketahui, tetapi karakteristik penting seperti laju pergeseran, segmentasi, dan magnitudo maksimum belum sepenuhnya dipahami.

>>> Jadwal KRL Jogja-Solo 11 Juni 2026, Tarif Rp8.000 Bantu Mobilitas Komuter

Perubahan pemahaman geologi sangat memengaruhi penilaian bahaya pada tingkat lokal.

Meskipun efeknya tidak terlalu besar pada skala regional, setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman mengenai sumber gempa.

Ancaman dari sesar aktif tidak hanya terbatas pada guncangan, tetapi juga risiko turunan seperti rekahan permukaan, tanah longsor, likuefaksi, dan potensi tsunami lokal.

Danny menekankan bahwa bangunan dapat dirancang tahan guncangan, tetapi sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter.

Implementasi kebijakan pembatasan pembangunan di zona sesar aktif masih menghadapi tantangan keterbatasan data detail di Indonesia. Danny menambahkan bahwa risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan.

>>> Rupiah Menguat ke Rp17.948 per Dolar AS pada Pembukaan Perdagangan

Oleh karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk penilaian risiko yang lebih akurat.