Sistem kerja hybrid kini banyak diterapkan perusahaan.

Namun, kesediaan bekerja penuh dari kantor atau work from office (WFO) dapat menjadi nilai tambah bagi pencari kerja.

>>> Timnas Indonesia U-19 Tantang Australia Demi Tiket Final Piala AFF

Fleksibilitas memilih sistem kerja menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang diterima kerja. Hal ini terutama berlaku bagi lulusan baru dan pekerja muda.

Data dari Federal Reserve Bank of New York menunjukkan tren kerja jarak jauh dan hybrid sejak pandemi menyulitkan pekerja muda memasuki dunia kerja.

Sekitar 64 persen kenaikan tingkat pengangguran pekerja muda sejak pandemi berkaitan dengan praktik kerja jarak jauh.

Sebelum pandemi, tingkat pengangguran pekerja di bawah 29 tahun rata-rata sedikit di atas 3 persen pada 2017-2019. Pada 2022-2025, angka itu meningkat menjadi 3,7 persen.

Tingkat pengangguran pekerja usia 22-27 tahun mencapai 7,2 persen pada Maret, naik dari 6,1 persen pada Februari 2020.

Meski demikian, sistem kerja hybrid tetap menjadi pilihan favorit banyak pekerja muda.

Survei Gallup menemukan 71 persen pekerja generasi Z lebih menyukai pola kerja hybrid. Mereka lebih memilih kombinasi dua hingga tiga hari di kantor dan sisanya dari rumah.

Perusahaan Prioritaskan Kehadiran Fisik

Peneliti New York Fed menilai perusahaan lebih berhati-hati merekrut lulusan baru untuk posisi minim interaksi langsung.

Perusahaan menghadapi tantangan lebih besar dalam mengajarkan keterampilan dasar jika pembelajaran dilakukan jarak jauh.

>>> Lee Jae Wook Siap Debut Penyanyi Lewat Single SHADOW Besok

Analisis terhadap pola perekrutan di salah satu perusahaan Fortune 500 menunjukkan kebijakan kembali bekerja penuh dari kantor memungkinkan mentoring langsung.

Perusahaan tetap merekrut lebih banyak pekerja muda setelah pandemi.