Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,50 Persen untuk Stabilkan Rupiah
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6).
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus menghadapi tekanan pasar dalam beberapa bulan terakhir.
>>> MUI Anjurkan Umat Islam Perbanyak Amal Saleh di Bulan Muharram
Di pasar spot, rupiah ditutup menguat 0,63 persen pada Rabu (10/6/2026) ke level Rp 17.944 per dolar Amerika Serikat (AS), naik dari posisi sebelumnya Rp 18.058.
Meski menguat secara harian, kinerja rupiah masih menjadi yang terlemah di antara mata uang Asia lainnya dengan depresiasi mencapai 7,65 persen dalam enam bulan terakhir.
Respons Pasar dan Pandangan Ekonom
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai respons positif pasar terhadap kenaikan suku bunga belum menjamin penguatan rupiah berkelanjutan.
"Kenaikan suku bunga mampu menahan tekanan jangka pendek, mengurangi ruang spekulasi, dan membuat aset rupiah lebih menarik," ujar Josua.
Namun, stabilitas rupiah yang lebih berkelanjutan membutuhkan kebijakan lanjutan, seperti penguatan pasokan valas, komunikasi fiskal yang meyakinkan, dan kepastian arah kebijakan pemerintah.
Josua menambahkan, otoritas moneter perlu mempertahankan daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), serta mengontrol likuiditas perbankan secara terukur.
"Jika tekanan rupiah kembali membesar, ruang kenaikan suku bunga lanjutan tetap ada.
Namun, itu sebaiknya menjadi pilihan terakhir karena biayanya terhadap pertumbuhan ekonomi dan bunga kredit akan semakin besar," jelasnya.
Tekanan domestik seperti kecemasan investor terkait arah kebijakan fiskal, regulasi mendadak, dan kondisi pasar saham turut memperparah pelemahan rupiah, di samping faktor global.
Aliran modal asing saat ini masih dominan masuk ke instrumen jangka pendek seperti SRBI, sementara sektor obligasi jangka panjang dan pasar saham domestik masih mengalami tekanan pelepasan aset.
>>> Survei Adidaya Institute: 68,2% Publik Puas dengan Kinerja Prabowo-Gibran
Faktor penopang seperti cadangan devisa yang memadai, inflasi terkendali, dan surplus neraca perdagangan diproyeksikan mampu menjaga fluktuasi rupiah dalam skenario dasar semester II 2026 pada kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Update Terbaru
Sinopsis Kabhi Alvida Naa Kehna di Mega Bollywood Paling Yahud Hari ini 27 Juli 2026 di ANTV
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Sinopsis Blank di Mega Bollywood Paling Yahud Hari ini 26 Juli 2026 di ANTV
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Spoiler The Apartment Job Episode 7-8: Park Hae Kang Resmi Jadi Ketua, Apa Isi Paket Misterius dari Jang Sook Jin?
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Apakah Drakor Love in Sync Bakal Lanjut Season 2?
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
YA ALLAH! Sebening Cinta Terancam Tamat, Inilah Program TV dengan Rating Terbaik Hari ini 26 Juli 2026
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Sinopsis RoboCop 3 di Bioskop Trans TV Hari ini 28 Juli 2026
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Sinopsis Mechanic Resurrection di Bioskop Trans TV Hari ini 26 Juli 2026
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Jadwal Program Trans TV Hari ini 27 Juli 2026: Brownies, Insert dan Pagi-Pagi Ambyar ada Film Bioskop serta Link Streaming
Minggu / 26-07-2026, 05:00 WIB
Liverpool Tentukan Starting XI untuk Uji Coba Lawan Sunderland di Nashville
Minggu / 26-07-2026, 04:51 WIB
Red Sox Pertimbangkan Perdagangan Sonny Gray Jelang Batas Waktu
Minggu / 26-07-2026, 04:50 WIB
Terence Crawford Dukung Errol Spence Jr Hadapi Tim Tszyu Tanpa Laga Pemanasan
Minggu / 26-07-2026, 04:50 WIB







