Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat jumlah sampah makanan atau food loss and waste di Indonesia masih sangat tinggi.

Kepala BRIN Arif Satria memaparkan volume food loss and waste di Indonesia mencapai 115 hingga 184 kilogram per kapita per tahun.

>>> WhatsApp iPhone Kini Dukung Dua Akun Sekaligus, Begini Cara Aktifkannya

Hal itu disampaikan dalam acara Ketahanan Pangan Untuk Indonesia Emas di Kempinski, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurut Arif, menekan angka sampah makanan bisa menjadi solusi untuk mengatasi persoalan produksi pangan nasional.

"Untuk meningkatkan produktivitas, itu tidak semata dengan meningkatkan produksi, tapi dengan menekan food waste, kita sudah bisa," ujar Arif.

Ia menjelaskan food loss and waste merupakan masalah global yang mencapai sepertiga dari seluruh pangan dunia.

Sampah pangan dari proses produksi sendiri mencapai 11 persen akibat metode kerja yang masih tradisional di tingkat hulu.

>>> Apple Perkenalkan Fitur Berbasis Kecerdasan Buatan di Seluruh Layanannya

"Jadi dari produksi di sawah itu 11%. Kalau kita panen, 11% hilang.

Kenapa? Kita masih panen secara tradisional kebanyakan," terang Arif.

Pengelolaan food loss and waste yang baik berpotensi menyediakan makanan bagi 61 hingga 125 juta orang.

Selain itu, upaya ini juga bisa menekan emisi dan mengurangi kerugian finansial negara hingga Rp 200-Rp 500 triliun.

"Kita bisa ngasih makan 61-125 juta orang. Kita bisa menekan emisi.

>>> TVRI Kantongi Hak Siar Piala Dunia 2026, Siap Tayangkan 104 Pertandingan

Kita bisa mengatasi kerugian Rp 200-Rp 500 triliun," pungkas Arif.