"Dampaknya yang dikhawatirkan, ekspansi di beberapa perusahaan pasti akan terganggu dan akan fokus dengan coverage yang sudah ada sekarang," katanya.

Sementara itu, APJATEL mencatat pelemahan rupiah membuka peluang kenaikan harga perangkat teknologi informasi seperti server, laptop, router, hingga kabel fiber optik sebesar 5% hingga 12%.

Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy menjelaskan bahwa kondisi harga sempat membaik sebelum mata uang kembali tertekan.

"Selama satu tahun terakhir harga memang sempat membaik setelah meredanya krisis chip global, namun pelemahan mata uang dapat menekan biaya impor," ujarnya.

Menurut APJATEL, biaya tenaga kerja untuk konstruksi fisik tidak terdampak langsung oleh kurs. Namun, para kontraktor cenderung menyesuaikan tarif akibat kenaikan harga material pendukung dan alat kerja impor.

"Hal ini berpotensi mendorong peningkatan biaya total proyek meski proporsinya lebih kecil dibanding kenaikan pada perangkat," kata Jerry.

Sebagai langkah mitigasi, APJATEL menyarankan optimalisasi stok, negosiasi dengan vendor global, serta peningkatan penggunaan komponen lokal. Asosiasi mendorong anggotanya untuk tetap menjaga kelangsungan pembangunan infrastruktur.

>>> Saraf Terjepit di Punggung: Penyebab dan Cara Mengobati di Rumah

"APJATEL juga mendorong seluruh anggota untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tetap berjalan, karena konektivitas adalah kebutuhan dasar masyarakat dan fondasi ekonomi digital," kata Jerry.