Bhima memperingatkan dampak lanjutan seperti merosotnya daya beli kelompok menengah, bertambahnya penduduk rentan miskin, kenaikan harga pangan, potensi penyesuaian suku bunga kredit, lonjakan PHK pada kuartal III/2026, hingga meningkatnya kriminalitas dan gejolak sosial.

Ekonom UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menambahkan, kenaikan Pertamax 32% membuat keluarga yang menggunakan 30 liter per minggu harus mengeluarkan tambahan biaya mobilitas hampir Rp474.000 per bulan.

Bagi rumah tangga kelas menengah bawah, angka itu setara biaya listrik, iuran sekolah, paket internet, atau sebagian belanja dapur.

Achmad menekankan bahwa tidak semua pengguna Pertamax adalah orang kaya; banyak pemilik motor dan mobil kecil menggunakannya karena pertimbangan mesin atau menghindari antrean.

Ia juga mengingatkan bahwa BBM adalah darah mobilitas ekonomi.

Kenaikan harga BBM non subsidi berdampak pada biaya logistik, distribusi UMKM, dan layanan, yang akhirnya mendorong kenaikan harga makanan, jasa, dan kebutuhan harian.

Achmad menilai, meskipun Pertamax bukan BBM subsidi, dampak psikologis kenaikannya tetap meluas.

>>> Timnas Portugal Target Juara Piala Dunia 2026 Bersama Ronaldo

Pedagang, pengemudi, dan penyedia jasa mulai menyesuaikan perhitungan, sehingga beban kelas menengah tidak hanya dari pom bensin, tetapi juga dari warung, pasar, sekolah, dan layanan harian.