Klinkhamer dan B. J.

Oundag pada rentang tahun 1916 sampai 1918.

Sementara itu, pembangunan Gedung D dan Gedung E ditangani oleh Thomas Karsten. Ia merupakan arsitek termuda yang terlibat dalam proyek perluasan tersebut.

Masa Pendudukan Jepang dan Fungsi Saat Ini

Fungsi bangunan ini berubah ketika pasukan Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Militer Jepang mengambil alih tempat ini untuk dijadikan markas tentara sekaligus kantor transportasi bernama Riyuku Sokyoku.

Lokasi ini kemudian menjadi saksi bisu peristiwa pertempuran lima hari yang terjadi pada 15-19 Oktober 1945.

Pertempuran sengit tersebut melibatkan rakyat Indonesia, termasuk Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA), melawan tentara Jepang.

Saat konflik pecah, pasukan Jepang menjadikan gedung ini sebagai benteng pertahanan mereka.

Di sisi lain, pasukan AMKA berpusat di Wilhelminaplein atau Kawasan Taman Tugu Muda yang berada tepat di seberang bangunan.

Setelah melewati berbagai proses pemugaran dan renovasi, bangunan bersejarah ini kini beralih fungsi menjadi destinasi wisata museum. Museum Lawang Sewu memamerkan berbagai koleksi sejarah perkeretaapian.

Para pengunjung dapat melihat langsung beragam benda bersejarah di dalam museum.

>>> Grab Indonesia Targetkan Armada Kendaraan Listrik Naik Tiga Kali Lipat pada 2026

Koleksi yang dipajang meliputi seragam masinis, alat komunikasi kuno, lemari karcis, hingga mesin cetak tanggal untuk karcis kereta api.