Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada harga obat-obatan bebas di sejumlah apotek di Jakarta.

Kenaikan harga bahan baku impor menjadi pemicu utama lonjakan tersebut.

>>> Cici Faramida Rilis Ulang Lagu Jangan Tunggu Lama-Lama, Gandeng Rizal Mantovani

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengakui adanya tekanan dari industri farmasi terkait kenaikan biaya produksi.

Pemerintah saat ini tengah menghitung ulang komponen biaya logistik dan operasional bersama para pelaku industri.

"Saya sudah minta Ibu Dirjen, kan komponen harga obat selain bahan baku ada juga komponen biaya distribusi, marketing.

Coba tolong dihitung angkanya. Sekarang sedang didiskusikan dengan para industri," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin pada Senin (8/6/2026).

Menkes menambahkan bahwa kenaikan harga produk farmasi diproyeksikan tidak akan melonjak setinggi persentase pelemahan nilai tukar. Hal ini karena faktor pembentuk harga tidak sepenuhnya berasal dari komponen impor.

Kenaikan Terjadi pada Obat Bebas

Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa fluktuasi kurs paling dirasakan pada komoditas obat Over The Counter (OTC) atau obat bebas tanpa resep.

Obat batuk dewasa dan minyak hangat mengalami kenaikan sekitar 3 hingga 5 persen.

Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian (TKK) di Jakarta Selatan mengungkapkan bahwa lonjakan harga mayoritas terjadi pada produk kesehatan yang rutin dibeli konsumen sehari-hari.

"Untuk barang-barang yang naik sih, sebenarnya yang sering orang pakai.

>>> Apa Pekerjaan Mathis Molinie? Sosok yang Diduga Dekat dengan Raisa Usai Konser Love & Let Go, Benarkah Chef dari Prancis

Bukan obat keras, kalau di apotek kan ada obat keras tuh, yang biasanya dari rumah sakit, dari dokter itu sih kebanyakan tidak naik," katanya.