Ekonom senior Chatib Basri menilai kondisi perekonomian domestik tidak seburuk yang dibayangkan masyarakat. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini lebih didominasi oleh faktor global.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Grab Business Forum di Jakarta pada Selasa (9/6/2026).

>>> Bank Indonesia Pastikan Cadangan Devisa Cukup untuk Stabilisasi Rupiah

Chatib Basri yang juga mantan Menteri Keuangan menyebut konsumsi rumah tangga kuartal I masih tumbuh cukup baik.

Lonjakan konsumsi selama momentum Lebaran dan realisasi belanja pemerintah sebesar 20-22 persen menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

"Yang menarik adalah, situasi di domestik itu nggak seburuk yang dibayangkan," ujarnya.

Meski demikian, porsi belanja negara yang tinggi dinilai tidak bisa dipertahankan terus-menerus. Pemerintah perlu memperbesar penerimaan pajak agar defisit anggaran tetap terkendali.

Chatib mencontohkan pertumbuhan belanja pemerintah mencapai 35 persen, sementara penerimaan pajak hanya tumbuh sekitar 18 persen. Kesenjangan ini berpotensi memicu perlambatan realisasi anggaran pada kuartal III dan IV.

>>> OJK Godok Aturan Tokenisasi Aset Nyata Komoditas Emas Nasional

"Mau nggak mau, spending-nya juga akan slowdown. Kalau nggak, budget deficit-nya akan lebih dari 3%," kata Chatib.

Hal ini disebutnya menimbulkan kecemasan investor.

Dari sisi eksternal, tekanan berasal dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan AS. Konflik tersebut memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi global.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi ancaman nyata yang dihindari AS di tengah inflasi domestik 3,8 persen dan harga bensin US$4,5 per galon.

Selain itu, AS juga menghadapi pemilu sela pada November mendatang.

>>> Hormon GDF15 Berpotensi Menurunkan Keinginan Mengonsumsi Alkohol

"Bukan karena dia mengira, tapi dia punya kepentingan politik di Amerika," kata Chatib menanggapi kebijakan AS terkait konflik Timur Tengah.