"Inilah yang kami maksud dengan scale smarter and execute faster.

Bagi Grab, scale smarter berarti bertumbuh dengan pilihan yang lebih jelas, memilih area yang benar-benar menciptakan nilai, tentunya dengan data, kemudian mengalokasikan sumber daya dengan lebih presisi, dan memastikan bahwa pertumbuhan tidak menambah kompleksitas yang justru akan memperlambat bisnis," jelas Neneng.

Sementara itu, konsep execute faster bertumpu pada percepatan pelaksanaan strategi harian dengan dukungan teknologi digital.

"Nah, execute faster berarti bagaimana menerjemahkan strategi menjadi eksekusi sehari-hari melalui integrasi teknologi, termasuk AI dan automation, untuk mendukung produktivitas, visibilitas, kontrol yang lebih baik, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat berdasarkan data," kata Neneng.

Integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengendalikan biaya demi memenuhi ekspektasi konsumen yang tinggi.

"Teknologi itu bukan hanya hadir sebagai inovasi di atas kertas, tetapi juga harus membantu tim untuk bekerja lebih produktif, membantu perusahaan mengelola biaya dengan lebih jelas dan lebih efisien, serta membantu konsumen merasakan layanan yang lebih konsisten.

>>> Apple Siapkan MacBook Ultra Layar Sentuh dengan Panel OLED

Konsumen sekarang itu ekspektasinya sangat tinggi," ujarnya.

Tantangan pergeseran perilaku konsumen dan integrasi teknologi digital ini memerlukan sinergi yang kuat dari berbagai elemen pendukung bisnis.

"Like we all know, entering the second semester of 2026, the business world is moving in a landscape that is increasingly complex and changing very quickly," ujar Neneng.

Dinamika ekonomi yang luas ini berdampak nyata bagi kelangsungan operasional dan model pelayanan pelanggan.

"For business actors, this challenge no longer comes from one direction," katanya.