Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menguat pada 2027.

Mata uang Garuda diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

>>> Kapolri Jamin Perubahan Usia Pensiun Tak Hambat Karier Anggota

Proyeksi ini menunjukkan kondisi yang lebih kokoh dibandingkan posisi saat ini yang masih tertahan di sekitar Rp18.000 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).

Lima Faktor Penguatan Rupiah

Perry mengungkapkan lima faktor utama yang mendasari optimisme penguatan rupiah.

Faktor pertama adalah prospek ekonomi global yang membaik, sehingga memicu aliran modal asing masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia.

>>> Barcelona Incar Cesc Fabregas sebagai Calon Pengganti Hansi Flick

Kedua, fundamental ekonomi domestik yang solid dengan pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, defisit transaksi berjalan rendah, imbal hasil menarik, dan cadangan devisa yang cukup.

Faktor ketiga adalah kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN ekspor yang diyakini mendongkrak volume ekspor dan mengoptimalkan devisa.

Keempat, komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan instrumen kebijakan lainnya.

Faktor kelima adalah sinergi erat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah.

>>> Gaikindo Catat Penjualan Mobil Mei 2026 Naik 14 Persen secara Tahunan

"Jadi lima faktor itu rupiah insya Allah tahun depan akan menguat kisarannya Rp16.800-17.500," pungkas Perry.