Bank Indonesia (BI) menyiapkan empat langkah strategis lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya gejolak pasar keuangan global akibat konflik Timur Tengah.

Kebijakan tersebut diluncurkan bersamaan dengan keputusan BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.

>>> Lagu Dracula Jennie Blackpink Tembus 10 Besar Pop Airplay Billboard AS

Suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,5% dan Lending Facility menjadi 6,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa strategi ini bertujuan mengendalikan inflasi sesuai sasaran pemerintah sebesar 2,5±1% serta menarik aliran modal asing.

Empat Langkah Strategis BI

Langkah pertama adalah menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan.

Perry mengatakan kenaikan ini dilakukan sesuai mekanisme pasar agar investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif.

>>> Harga Emas Antam 9 Juni 2026 Turun, Warga Bangka Belitung Ramai-Ramai Beli

Kebijakan kedua berupa pemberian insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10% bagi investor asing. Fasilitas ini untuk mengompensasi sebagian biaya transaksi mereka.

Langkah ketiga, BI membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) perbankan untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan.

Fasilitas ini bertujuan menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan menggantikan ketergantungan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah terakhir adalah peningkatan intensitas operasi moneter melalui lelang SRBI dua kali sepekan untuk instrumen rupiah.

>>> Cara Cek Penerima PIP 2026 Lewat HP dan Jadwal Pencairannya

BI juga memperkuat intervensi pasar valuta asing lewat transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri.