Sejak awal tahun hingga pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor global yang saling memperkuat.

Konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dunia.

>>> Apple Perkenalkan Fitur Keamanan Anak Baru di WWDC26: Ask to Browse, Time Allowances, dan Screen Time yang Didesain Ulang

Di saat yang sama, suku bunga global masih tinggi dan arus modal keluar dari negara berkembang kembali meningkat.

Situasi tersebut membuat dolar Amerika Serikat kembali mendominasi pasar keuangan global. Tekanan terhadap rupiah pun semakin terasa.

>>> Bengkel Spesialis: Motor Listrik Tetap Butuh Servis Berkala

Kapan Rupiah Bisa Kembali Stabil?

Menurut Anton Hendranata, Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., pertanyaan yang sering muncul adalah kapan rupiah bisa benar-benar kuat dan stabil.

Jawabannya, menurut dia, sederhana. Rupiah membutuhkan 'home sweet home' — rumah yang nyaman, aman, dan dipercaya oleh penghuninya sendiri.

>>> 5 Kopitiam Nyaman dan Populer di Jakarta Barat

Pernyataan tersebut mengindikasikan perlunya stabilitas domestik dan kepercayaan investor untuk memperkuat nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.