Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mendorong lonjakan biaya operasional pusat perbelanjaan. Kondisi ini terjadi di tengah konsumsi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menjelaskan bahwa beban operasional meningkat setiap bulan. Kenaikan ini dipicu oleh keterkaitan harga energi dengan mata uang asing.

>>> Harga Emas Antam 9 Juni 2026 Turun Rp 10.000 Per Gram

"Operasional di pusat perbelanjaan meningkat, terutama dari sisi biaya logistik, kemudian harga gas, karena CNG itu ada unsur nilai USD-nya.

Sehingga kami mengalami kenaikan biaya gas setiap bulan," kata Alphonzus, Senin (8/6/2026).

Kenaikan pengeluaran tersebut tidak dapat langsung dibebankan kepada para penyewa mal. Pasalnya, bisnis ritel saat ini sedang memasuki masa low season dengan tingkat penjualan yang belum optimal.

"Kami harus selektif [tidak bisa menaikkan harga sewa] karena sedang berada di low season. Penjualan sedang belum maksimal, tetapi biaya operasi naik," lanjut Alphonzus.

Tekanan bagi pengelola pusat perbelanjaan kian bertambah seiring langkah sejumlah pemerintah daerah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kenaikan pajak dan pungutan lokal terjadi akibat penyesuaian dana transfer pusat.

"Beberapa pemerintah daerah karena dana alokasi daerah dikurangi, mereka juga mencari pendapatan tambahan dengan cara menaikkan pajak-pajak.

>>> Ramalan Zodiak Libra, Scorpio, dan Sagitarius: Peluang Karier hingga Asmara

Ini yang kami alami di beberapa daerah sehingga biaya operasional menjadi naik," ungkap Alphonzus.

Manajemen pusat perbelanjaan tetap memposisikan penyesuaian tarif bagi konsumen maupun penyewa sebagai langkah paling akhir. Langkah ini diambil demi menjaga daya beli masyarakat yang masih tertekan situasi ekonomi.

"Menaikkan harga adalah langkah terakhir. Di tengah situasi masyarakat yang sedang mengalami tekanan, menaikkan harga menjadi opsi terakhir," jelas Alphonzus.

Sebagai solusi alternatif, APPBI fokus memacu volume penjualan lewat program promosi.

Beberapa di antaranya adalah Festival Jakarta Great Sale, Solo Raya Great Sale, dan Indonesia Shopping Festival pada Agustus mendatang.

"Triwulan IV adalah peluang terakhir bagi industri ritel di Indonesia untuk mencari penjualan.

>>> Studi Oxford: Kesenjangan Akses Digital Perempuan Global Masih Lebar

Kalau kondisi berat ini masih berlanjut sampai triwulan IV, hampir dipastikan kinerja industri ritel pada 2026 akan semakin sulit mencapai target," pungkas Alphonzus.