Harga emas dunia menunjukkan pergerakan solid dengan bertahan di atas level US$ 4.300 per ons troi pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Logam mulia spot tercatat naik tipis 0,09% ke posisi US$ 4.333,96 per ons troi.

>>> Xi Jinping Kunjungi Korea Utara, Perkuat Hubungan Diplomasi

Sehari sebelumnya, emas ditutup menguat 0,02% di level US$ 4.329,98 per ons troi setelah sempat menyentuh titik terendah sejak 23 Maret di US$ 4.268,39 per ons troi.

Kekhawatiran pasar terhadap ketegangan di Timur Tengah mulai mereda setelah adanya kesepakatan Iran dan Israel untuk menghentikan serangan.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa kedua negara sedang mengupayakan gencatan senjata dalam waktu dekat, sementara negosiasi damai permanen masih berlangsung.

Prospek gencatan senjata tersebut menenangkan pasar energi global dan meminimalkan risiko lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak.

Hal ini menjadi pendorong bagi pergerakan emas setelah sempat tertekan pada beberapa sesi sebelumnya.

Faktor Pembatas Penguatan Emas

Meskipun mendapat dorongan positif, harga emas masih tertahan di dekat level terendah sejak akhir Maret.

>>> Jadwal KA Bandara YIA Xpress 9 Juni 2026: Layanan Non-Stop Rp50.000

Ruang penguatan logam mulia ini dibatasi oleh kokohnya dolar AS dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan performa ekonomi yang lebih tangguh dari perkiraan. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang kini menembus angka 40%, naik signifikan dari proyeksi sebulan lalu yang hanya 14%.

Kenaikan suku bunga secara historis menjadi beban bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berimbal hasil seperti obligasi.

Perhatian investor kini beralih pada rilis data inflasi AS pekan ini, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI).

>>> AMD Tunda Peluncuran GPU RDNA 5 Akibat Kelangkaan Komponen Global

Data tersebut diproyeksikan menjadi indikator krusial dalam membaca arah kebijakan The Fed selanjutnya dan berpotensi menjadi katalisator utama tren harga emas jangka pendek.