PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencatat permintaan lahan industri mencapai sekitar 72 hektare hingga Maret 2026.

Lonjakan minat ini didominasi oleh investor asing yang aktif melakukan ekspansi dan penjajakan investasi di kawasan industri MM2100.

>>> 10 Cara Menghapus Iklan di HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan

Pada kuartal pertama tahun 2026, emiten berkode BEST ini telah membukukan penjualan lahan industri seluas dua hektare.

Nilai marketing sales dari transaksi tersebut mencapai sekitar Rp55 miliar pada Jumat (5/6).

Secara historis, investor dari Jepang dan Indonesia menjadi basis penyewa utama di kawasan MM2100.

Selain itu, perseroan juga mengidentifikasi aktivitas penjajakan dari pemodal asing asal China, Singapura, dan Thailand.

Head of Corporate Finance and Investor Relation BEST, Rika Mandasari, menyatakan bahwa permintaan dari investor asing masih mendominasi dibandingkan investor domestik.

Tren relokasi industri, ekspansi supply chain, serta kebutuhan fasilitas siap pakai turut mendorong permintaan kawasan industri.

>>> Jadwal Voli Putri AVC Nations Cup: Indonesia vs Vietnam 8 Juni 2026

Target Kinerja dan Tantangan

Manajemen menetapkan target pertumbuhan kinerja yang moderat untuk kenaikan pendapatan dan laba bersih. Target ini akan dicapai melalui perpaduan penjualan lahan serta peningkatan pendapatan berulang.

Meski demikian, emiten pengembang properti ini menggarisbawahi tantangan krusial pada aspek birokrasi penanaman modal.

Rika Mandasari menjelaskan bahwa tantangan terbesar kawasan industri pada tahun 2026 bukan berasal dari minat investasi, melainkan dari aspek kepastian dan kecepatan eksekusi.

Sinkronisasi kebijakan antarinstansi, percepatan perizinan, kepastian tata ruang, hingga penyelesaian kendala operasional dinilai menjadi faktor penentu realisasi investasi.

Untuk menjaga pertumbuhan, perseroan memperluas jaringan pemasaran bersama agen serta meluncurkan Premium Industrial Hub berupa gudang multifungsi siap pakai.

Rika Mandasari menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa faktor paling berpengaruh terhadap kinerja tahun ini adalah kecepatan realisasi investasi.

>>> Ketahanan Energi Jadi Kunci Stabilitas Harga BBM dan LPG Subsidi

Hal ini didukung oleh kepastian regulasi, sinkronisasi kebijakan, serta percepatan proses perizinan dan infrastruktur pendukung.