Investor kini mulai meragukan keberlanjutan keuntungan dari sektor AI akibat kekhawatiran inflasi serta tingginya harga minyak dunia.

>>> Studi University of York: Kebiasaan Bicara Dongkrak Kecerdasan Anak

"Bagi kami, ini berpotensi menjadi awal dari penurunan yang signifikan, meskipun bukan berarti akhir dari tren bull market ini," tulis Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak.

"Dalam jangka panjang, kami percaya bahwa kita sedang berada di dalam gelembung besar yang pada akhirnya akan berakhir sangat buruk."

Pada Jumat pekan lalu, rekor mingguan historis di Wall Street resmi terhenti akibat meningkatnya aksi jual saham teknologi.

Indeks Nasdaq 100 ambles 4,8%, sedangkan indeks S&P 500 turun 2,6% karena kecemasan terkait valuasi saham, sementara indeks industri pembuat cip jatuh hingga 10%.

Intervensi Mata Uang dan Data Ekonomi AS

Pemerintah Korea Selatan dilaporkan mulai menyiapkan langkah intervensi guna meredam tekanan terhadap mata uang won.

Langkah ini diambil setelah nilai mata uang won merosot ke level terlemahnya sejak tahun 2009.

Dari sektor geopolitik, Iran menembakkan gelombang rudal ke Israel saat Presiden Trump berupaya mempertahankan gencatan senjata dalam konflik 100 hari AS dengan Teheran.

Hingga kini, AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti menuju kesepakatan damai.

Faktor lain yang membebani investor adalah pertumbuhan lapangan kerja AS bulan Mei yang melampaui semua prediksi pengamat.

Tingkat pengangguran AS bertahan stabil di angka 4,3%, menandakan pasar tenaga kerja mulai keluar dari kelesuan perekrutan.

Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun melonjak 10 basis poin ke posisi 4,15% pada hari Jumat.

Pelaku pasar swap memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang.

>>> Investor Domestik Borong Saham BBCA Rp 1,1 Triliun Saat Asing Lepas

Perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan penentu kebijakan The Fed tanggal 16-17 Juni yang akan dipimpin oleh Gubernur baru, Kevin Warsh.