Hambatan teknis ini memicu jarak antar-kereta atau headway bertahan di kisaran 10 menit.

Kondisi tersebut terpaut jauh dengan jalur Bekasi dan Bogor yang telah mampu melayani mobilitas massal dengan headway lebih rapat, yakni sekitar 3 sampai 4 menit saja.

Pembaruan pada sistem persinyalan diyakini bakal mendongkrak kapasitas lintas, sehingga frekuensi perjalanan kereta bisa ditambah dan waktu tunggu penumpang di stasiun menjadi lebih pendek.

Peningkatan frekuensi perjalanan dinilai bakal menghadirkan fleksibilitas lebih bagi masyarakat dalam mengatur jadwal keberangkatan maupun kepulangan.

Pilihan perjalanan yang variatif akan meratakan distribusi penumpang dan menaikkan standar layanan.

"Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan.

>>> China Kerahkan Robot Humanoid AI untuk Bantu Polisi Lalu Lintas

Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin baik," tambah Bobby.