Maskapai Etihad Airways mengumumkan pembelian pesawat berbadan lebar (widebody) dalam jumlah dua digit untuk memperkuat posisinya di pasar penerbangan jarak jauh.

Rencana ekspansi ini disampaikan langsung oleh CEO Etihad, Antonoaldo Neves, di sela-sela pertemuan global para CEO maskapai di Rio de Janeiro, Brasil, pada Sabtu (7/6).

>>> Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia S1 UPJB Buka Peluang Karier Lulusan di Berbagai Bidang

Langkah strategis ini mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap prospek pertumbuhan industri penerbangan internasional.

Meskipun sektor tersebut sempat tertekan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Etihad tetap mempertahankan kapasitas penerbangannya tanpa mengurangi rute.

Operasional penerbangan Etihad kini dalam proses pemulihan total setelah melakukan penyesuaian jadwal pada Maret lalu.

Penyesuaian tersebut dipicu oleh konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sempat memicu lonjakan harga bahan bakar.

>>> China Kerahkan Robot Humanoid AI untuk Bantu Polisi Lalu Lintas

Fokus pada Efisiensi dan Load Factor

Manajemen maskapai menilai bahwa efisiensi biaya tidak harus dilakukan dengan memangkas rute penerbangan. Neves berpendapat bahwa beban finansial terbesar muncul ketika armada tidak terisi secara optimal oleh penumpang.

"Biaya terbesar yang kami miliki adalah pesawat yang kosong. Jadi cara saya memangkas biaya adalah memastikan tidak ada pesawat yang terbang kosong," ujar Neves.

Pernyataan tersebut menegaskan fokus utama Etihad saat ini adalah menjaga tingkat keterisian kursi (load factor) agar tetap tinggi.

>>> Ilmuwan Ungkap Rahasia Genetik dan Gaya Hidup Orang Tertua di Dunia

Strategi ini diterapkan untuk memanfaatkan momentum pemulihan dan lonjakan permintaan perjalanan internasional pascakrisis regional.