"Ke mana-mana itu (dampaknya), bisa ada pengaruh sama mood-nya anak. Anaknya jadi rewel, anaknya jadi clingy.

Jadi kayak, pokoknya kayak salah terus gitu. Diapain salah, digendong salah, ditaruh salah, diapain salah," jelas dr. Miza.

Dampak komunikasi langsung usus dan otak ini juga mengganggu fase tidur lelap anak pada malam hari karena rasa tidak nyaman di perut memaksa otak untuk terus terjaga.

"Habis memengaruhi ke mood, bisa memengaruhi perkembangan otak juga, karena tadi saya bilang, dia hubungannya mereka itu langsung, karena yang saling mengirim sinyal," terang dr. Miza.

Kondisi anak yang terbangun berulang kali akibat perut melilit dapat mengancam kualitas istirahat yang sangat esensial bagi proses regenerasi sel, pembentukan hormon, dan tumbuh kembang fisik balita.

"Karena tidurnya kebangun-bangun terus malam, sementara kita tahu tidur sepenting itu dalam pertumbuhan tubuh serta otak manusia.

>>> Cara Cek PIP 2026 Lewat HP Menggunakan NIK dan NISN

Jadi kalau tidurnya tidak berkualitas, semuanya juga dia bisa berpengaruh gitu," pungkas dr. Miza.