Belakangan ini, impian memiliki PC idaman semakin jauh dari jangkauan karena harga komponen yang terus melonjak.

Jika Anda rajin memantau harga di marketplace atau toko komputer, pasti menyadari bahwa harganya sudah tidak masuk akal.

>>> Portugal Kalahkan Chile dalam Laga Persahabatan yang Diwarnai Dua Kartu Merah

Anggaran yang beberapa tahun lalu bisa merakit PC spesifikasi menengah ke atas, kini hanya cukup untuk spesifikasi pas-pasan.

Penyebab Harga Komponen PC Melonjak

Gairah industri teknologi yang gila-gilaan mengembangkan kecerdasan buatan (AI) membuat produsen chip lebih fokus memproduksi hardware untuk server korporat.

Belum lagi inflasi, pelemahan Rupiah, dan biaya logistik global yang terus naik.

Efek domino ini langsung berdampak ke dompet konsumen, dengan komponen esensial seperti kartu grafis, RAM, prosesor, hingga SSD harganya melonjak drastis.

Beli Bekas: Alternatif atau Jebakan?

Alasan utama orang melirik barang bekas adalah harganya yang jauh lebih ramah di kantong.

Fenomena depresiasi harga membuat komponen PC tahun lalu bisa turun 30-40 persen di pasar bekas saat generasi baru rilis.

Penurunan harga ini tidak serta-merta menurunkan performa.

Misalnya, kartu grafis NVIDIA RTX 3000 series atau AMD Radeon RX 6000 series masih solid untuk game modern dan editing video.

Bagi yang beranggaran ketat, pasar bekas adalah oasis. Uang yang dihemat bisa dialokasikan untuk komponen baru yang krusial seperti PSU berkualitas atau SSD berkapasitas besar.

Namun, di balik harga murah, ada risiko yang tidak bisa disepelekan.

Musuh terbesar adalah hilangnya garansi resmi. Di pasar bekas, Anda paling hanya mendapat garansi toko 3-7 hari.

Selain itu, Anda tidak tahu bagaimana pemilik sebelumnya memperlakukan hardware tersebut, apakah pernah dipakai mining kripto atau rendering berat.