Perekonomian Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi tekanan eksternal serta gejolak pasar keuangan global. Kondisi ini jauh dari situasi krisis 1998.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan yang terjadi saat ini murni dipicu oleh faktor sentimen global.

>>> Inggris Bawa Empat Pemain Muda Hadapi Selandia Baru di Florida

Faktor tersebut antara lain kebijakan suku bunga tinggi di negara maju dan ketidakpastian geopolitik.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa situasi saat ini sangat berbeda dengan tahun 1998.

Saat itu Indonesia mengalami kolaps sektor perbankan, inflasi tinggi, serta lonjakan tajam nilai tukar dari Rp4.000 menjadi di atas Rp16.000 per dolar AS seiring kontraksi ekonomi nasional.

"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda.

Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelas Josua dalam keterangan tertulis pada Sabtu (6/6/2026).

Menurut Josua, indikator makroekonomi dalam negeri saat ini cenderung positif. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen sebagai laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 5,52 persen dan investasi di level 5,96 persen.

Sementara inflasi per Mei 2026 terkendali pada angka 3,08 persen tahunan.

"Yang perlu dipahami, kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis," ujar Josua dalam acara Komunita Economic Talk di Jakarta pada Jumat (5/6/2026).

>>> Goncalo Guedes Jadi Pahlawan Portugal Kalahkan Chili 2-1

Stabilitas ekonomi nasional juga didukung oleh cadangan devisa per April yang mencapai 146,2 miliar dolar AS.