Menurut Yao, potensi pasar yang belum tergarap dalam industri ini masih bernilai triliunan dolar.

Ia menekankan bahwa langkah taktis China ke depan akan bertumpu pada penggunaan model AI berukuran lebih kecil dengan kinerja konsisten untuk tugas-tugas dasar.

Sikap optimistis Yao berbanding terbalik dengan meningkatnya kehati-hatian pelaku industri di AS.

Anthropic telah memperingatkan bahwa model AI terdepan saat ini semakin mendekati titik kritis.

Kekhawatiran muncul karena model tersebut berpotensi mengembangkan kemampuan sendiri tanpa pengawasan manusia.

Mereka menyerukan pelambatan atau penghentian sementara pengembangan model baru demi mencegah disrupsi skala besar.

Ketidakpastian kebijakan imigrasi di AS turut memengaruhi peta jalan talenta global.

Kondisi ini mendorong warga negara China untuk kembali dan mencari pekerjaan di tanah air, meskipun dengan bayaran lebih rendah.

Pemerintah China terus menggenjot investasi besar-besaran untuk menarik talenta unggul.

Langkah tersebut dibarengi penggelontoran dana penelitian untuk mengejar terobosan ilmiah dalam lima tahun ke depan.

Persaingan memperebutkan tenaga ahli terjadi secara agresif, baik domestik maupun internasional.

Selain Tencent, Alibaba merekrut peneliti Google DeepMind, Hao Zhou, untuk mengembangkan model AI Qwen.

Wu Yonghui, Wakil Presiden Penelitian di Google DeepMind, meninggalkan posisinya di California pada Februari 2025 untuk memimpin divisi penelitian di ByteDance Seed.

>>> Como 1907 Patok Harga 80 Juta Euro untuk Martin Baturina, Hadang Bayern Muenchen

Tren serupa terlihat pada startup Moonshot, perusahaan di balik model Kimi AI, yang didirikan oleh mantan karyawan Meta AI dan Google Brain, Yang Zhilin.