Namun, kenaikan pesat Vingroup—beserta bobotnya yang sangat besar—berisiko mendistorsi pasar saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara selama setahun terakhir.

Investor pasif juga harus menghadapi bobot indeks yang membengkak ketika Vietnam resmi naik status menjadi pasar berkembang pada September mendatang.

Fundamental Jadi Kunci Keberlanjutan

Pertanyaan utamanya kini adalah apakah fundamental perusahaan dapat membenarkan skala valuasi tersebut.

Agar pertumbuhan laba mampu mengejar valuasi, Vingroup sangat bergantung pada Vinhomes JSC.

Pada kuartal pertama, unit properti itu membukukan laba bersih sebesar 25,6 triliun dong (US$972 juta), sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya, sementara laba konsolidasi grup hanya mencapai 7,3 triliun dong.

Kinerja tersebut makin penting untuk menutupi kerugian yang masih dialami produsen kendaraan listrik yang tercatat di AS, VinFast Auto Ltd., serta meningkatnya utang grup yang sebagian dialirkan untuk mendukung bisnis otomotif tersebut.

>>> Shokz Luncurkan TWS OpenEar OpenDots 2 dan OpenDots Air

Menurut Mattias Martinsson, Chief Investment Officer di Tundra Fonder AB, perusahaan itu memiliki “kelebihan valuasi lebih dari US$30 miliar,” yang mengindikasikan nilai fundamentalnya seharusnya sekitar 70% lebih rendah.

Kehati-hatian investor juga terlihat dari posisi pasar.

Investor asing telah melepas saham lokal senilai US$2,7 miliar sepanjang tahun ini, mendekati arus keluar US$3,3 miliar dari Indonesia.

Dengan hanya segelintir perusahaan yang memiliki nilai transaksi harian di atas US$10 juta, tekanan jual kemungkinan terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Penggunaan leverage juga diduga berperan, dengan pinjaman margin mencapai rekor 407 triliun dong pada kuartal pertama, menurut Fiingroup.

Meski demikian, pertumbuhan Vinhomes juga mencerminkan arah ekonomi Vietnam yang lebih luas, di mana PDB tumbuh 7,8% pada kuartal pertama.