Divaldo mengingatkan para pemain Indonesia agar tidak terburu-buru tampil terbuka demi menghindari skema gol cepat yang biasa diincar oleh tim lawan.

"So awal-awal jika Indonesia bisa jaga mereka, bisa tenang, bisa tahan, mereka tidak akan bisa cetak gol. Nanti ketika mulai babak kedua ya cobalah.

Itu pikiran saya karena saya sudah pernah kerja di sana, saya tahu mereka," katanya.

"Mereka punya mental prajurit tapi karena mental itu di sana semua pikir seperti itu, mereka suka seperti babak pertama lebih agresif, lebih cari di babak pertama untuk curi gol cepat, itu mental mereka," lanjut Divaldo.

Penurunan Kondisi Fisik di Babak Kedua

Gaya main dengan intensitas tinggi yang diperagakan sejak menit awal dinilai menjadi bumerang tersendiri bagi ketahanan stamina para pemain Oman.

Divaldo memaparkan bahwa penurunan performa fisik yang signifikan biasanya mulai terlihat jelas ketika pertandingan memasuki 30 menit terakhir di babak kedua.

"Tapi menit-menit akhir seperti 20 sampai 30 menit di babak kedua mereka turun, fisik drop karena mereka punya mental lari terus, high intensity berarti mereka drop physical.

Di kompetisi mereka seperti itu," ungkapnya.

"Kalau Indonesia bisa tahan mereka, tenang, sabar, tunggu momentum, enggak usah ribet-ribet cari cepat.

>>> Republik Ceko Uji Coba Lawan Guatemala untuk Matangkan Taktik Piala Dunia

Tunggu momentum bola mati atau Indonesia bisa jaga full pertandingan, dapat mengontrol permainan dengan mudah, menurut saya karena levelnya tidak jauh beda," tutup Divaldo.