Pasar modal Indonesia mencatat pelemahan signifikan sebesar 29,1 persen secara year-to-date hingga April 2026. Kondisi ini terjadi di saat indeks MSCI Emerging Market justru tumbuh positif.

Analis pasar modal Shim dari Samuel Sekuritas mengungkapkan bahwa pergerakan pasar domestik yang berlawanan arah dengan tren regional menunjukkan tekanan yang masih kuat.

>>> Amalkan Doa Nabi Sulaiman untuk Memohon Kebaikan dan Keberkahan

Sorotan investor global tertuju pada aspek transparansi kepemilikan saham dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Shim menjelaskan bahwa keandalan data jumlah saham publik beredar (free float) dan faktor investability menjadi perhatian utama lembaga indeks investasi global.

Isu MSCI dinilai berdampak langsung pada persepsi investor, sehingga mereka cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk agresif ke pasar Indonesia.

Pihaknya memproyeksikan perbaikan penilaian pasar atau re-rating membutuhkan dukungan dari likuiditas transaksi, pertumbuhan laba bersih emiten, serta kebijakan regulator yang kondusif.

"Isu MSCI perlu diperhatikan karena ini bukan hanya soal persepsi," ungkap Shim.

>>> 5 Zodiak Paling Beruntung pada 5 Juni 2026, Ada Gemini hingga Aquarius

Faktor makroekonomi eksternal berupa pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp 16.650 hingga Rp 17.874 per dolar AS per 29 Mei 2026 turut meningkatkan risiko investasi domestik.

Hal ini membuat investor semakin selektif terhadap aset berisiko di pasar domestik.

Menteri Keuangan Purbaya secara terpisah menyatakan bahwa koreksi nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS disebabkan oleh dinamika sentimen pasar dan rumor, bukan masalah fiskal negara.

Data fundamental menunjukkan bobot lima saham emiten besar seperti AMMN, TPIA, DSSA, BREN, dan CUAN telah dipangkas menjadi 0,0 persen setelah dihapus dari Standard Index MSCI per 19 Mei 2026.

>>> Stella Christie: Sains Modern Lahir dari Filsafat, AI Berawal dari Pertanyaan Turing

Meskipun demikian, weighted EPS untuk indeks LQ45 diproyeksikan tumbuh secara bertahap dari 61,7 pada 2025 menjadi 66,7 pada 2026, dan diperkirakan naik ke level 76,0 pada 2027.