Itu benar-benar terjadi secara acak. Sangat acak," ujar Marae mengenai proses kehamilannya.

>>> Prasetyo Hadi Bantah Isu Pencopotan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

Prosedur pemisahan plasenta sempat disarankan oleh tim medis agar Bayi B bisa mendapatkan pasokan darah yang lebih banyak.

Namun, tindakan tersebut ditunda karena potensi komplikasi tambahan yang dapat membahayakan kehamilan Marae secara keseluruhan.

"Ada beberapa keputusan sulit yang mungkin harus diambil jika kita tidak bisa memulai prosedur itu. Tapi itu selalu menjadi prioritas kedua untuk saat ini.

Semuanya terlihat baik-baik saja. Detak jantung bayi dan kondisi jantungnya saja terlihat luar biasa.

Mereka tumbuh dengan baik.

Hanya saja, bayi A dan B sedikit lebih kecil daripada C dan D karena keadaan yang sedang terjadi," kata Marae.

Kondisi Bayi B sempat membaik saat momen pengungkapan jenis kelamin janin dilakukan. Kendati demikian, Marae harus kehilangan Janin B tersebut saat usia kehamilannya memasuki lebih dari 20 minggu.

"Berat badannya (bayi B) sekitar 368 gram saat meninggal. Ia hanya terpaut 85 gram dari bayi-bayi lainnya.

Ia jelas berusaha untuk mencapai berat badan yang sama dengan mereka semua. Tapi, sesuatu terjadi.

Kami tidak tahu pasti apa yang terjadi. Jadi, itulah bagian yang menyedihkan.

Ketidakpastian ini," kata Marae.

Pasca-kehilangan tersebut, Marae diwajibkan menjalani pemeriksaan mingguan demi memantau keselamatan dan mempertahankan tiga janin lainnya yang tersisa.

>>> Vietnam Geser Indonesia dari Puncak Klasemen Piala AFF U-19 2026

Ketiga bayi perempuan yang lahir dengan selamat tersebut kemudian diberi nama Renlyn, Hartley, dan Whitley.